Perubahan lingkungan bisnis yangg semakin dinamis pada dekade terakhir ini, menyebabkan kebutuhan akan disiplin ilmu pengukuran kinerja (Performance Measurement)meryadi signifikan
adanya. Tanpa adanya pengukuran kinerja yang mampu merepresentasikan Key Performance indicator's (KPI's) yang benar dan'didukung oleh seperangkat tools lainnya maka upaya para
manajer perusahaan mewujudkan keberhasilan implementasi strategi dan memenuhi keinginan dari stakeholder-nya akan sulit direalisasikan.
Model pengukuran kinerja tradisional dirasa tidak mampu mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis tersebut. Lebih cenderung bersifat finansial berdasarkan data masa
lalu menyebabkan sering terjadi ketidakrelevanan dengan kondisi yang ada, tidak fleksibel, tidak berorientasi pada strategi dan masih banyak lagi kelemahan lainnya dari pengukuran kinerja tradisional. Oleh karena itu, pada bab 1 di buku ini akan dijabarkan secara detail konsep dasar pengukuran kinerja termasuk kelemahan dari pengukuran kinerja tradisional berikut keunggulan, karakateristik dan typology dari pengukuran kinerja yang bersifat integratif Upaya perencanaan dan monitoring peningkatan kinerja berdasarkan strategi dan keingin an stakeholder menggunakan model pengukuran kinerja tradisional jauh dari harapan yang diinginkan para akademisi dan praktisi. Model pengukuran kinerja yang baru lebih bersifat integratif memadukan aspek finansial dan nonfinansial lebih diyakini mampu memenuhi keingrnan para praktisi
sebagai model manajemen yang mampu merencanaan dan memonitoring pencapaian strateg dan keinginan stakeholder-nya.
Relatif jarang buku pengukuran kinerja yang membahas secara komprehensif pengukuran kinerja terintegrasi' Hanya model Balanced Scorecard saja yang sering dibahas tanpa memberi alternatif
model lain. Padahal banyak model lainnya yang bisa digunakan. Relatif jarang juga buku pengukuran kinerja yang membahas bagaimana aplikasi pengukuran kinerja dalam konteks perusahaan di Indonesia seperti BUMN dan Yayasan.Dalam buku ini, pada bab 2 sampai bab 4 akan dibahas secara detail konsep berikut aplikasinya untuk model Balanced scorecard (bab 2), lntegrated Performance Measuremenst Systems( bab 3), Performance Prism (bab 4). Pada bab 5 akan dibahas aplikasi sistem pengukuran kinerja pada supply chain. Pertimbangan penulis memuat bab ini karena pada tahun terakhir ini isu supply chain management mengemuka dan sering diaplikasikan oleh perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
Dalam merancang dan mengukur kinerja perusahaan, ternyata tidak hanya pemahaman terhadap model penting diketahui oleh para praktisi dan mahasiswa, tetapi juga pemahaman tools
penunjang pengukuran kinerja juga perlu diketahui. Pada bab terakhir (bab 6) akan dibahas beberapa tools yang perlu dipahami dan dipakai dalam merancang sistem pengukuran kinerja seperti Analytical Hierarchy Process( AHP) dan Metode Objective Matrix (OMAX).
|
|
||































